Ketika Makanan Mengubah Jalan Hidup: Kisah Sudaryono dan Komitmen Keamanan Pangan MBG
Font Terkecil
Font Terbesar
JAKARTA, SOLO NEWS — Tiga arem-arem seharga Rp500 per buah menjadi bagian dari pengalaman yang membekas dalam perjalanan hidup Sudaryono, jauh sebelum ia terlibat dalam upaya memastikan keamanan pangan bagi jutaan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saat masih muda, Sudaryono meninggalkan Grobogan, Jawa Tengah, menuju Jakarta untuk mengikuti seleksi pendidikan perwira. Ia telah mempersiapkan diri selama berbulan-bulan, dengan harapan dapat mengenakan seragam yang menjadi cita-citanya.
Namun, perjalanan itu justru berakhir dengan kegagalan yang menurut kisahnya berkaitan dengan makanan yang dikonsumsinya di Terminal Pulogadung, Jakarta.
Lelah dan lapar setelah menempuh perjalanan darat, ia membeli tiga arem-arem dari seorang pedagang asongan. Dua buah pertama dimakannya tanpa masalah. Ketika menyantap yang ketiga, ia mendapati rasa asam yang tidak biasa dan menyadari makanan itu sudah basi.
Kondisi tubuhnya kemudian memburuk. Dengan kondisi yang tidak lagi prima, Sudaryono tetap mengikuti seleksi fisik, tetapi tidak berhasil mencapai hasil yang diharapkan. Cita-citanya menjadi perwira pun kandas.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat baginya tentang konsekuensi yang dapat ditimbulkan oleh makanan yang tidak layak dikonsumsi. Persoalan pangan, dalam pengalamannya, bukan semata-mata soal rasa atau harga, melainkan juga menyangkut kesehatan dan kesempatan seseorang untuk menjalani aktivitas penting dalam hidupnya.
Bertahun-tahun kemudian, pengalaman itu memperoleh relevansi baru dalam konteks MBG, program pemerintah yang menyediakan makanan bergizi bagi anak sekolah dan kelompok penerima manfaat lainnya.
Bagi Sudaryono, keamanan pangan menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan pemenuhan gizi. Makanan yang dirancang untuk mendukung kesehatan dan proses belajar anak justru dapat menimbulkan risiko apabila pengolahan, penyimpanan, atau distribusinya tidak memenuhi standar.
Di balik setiap wadah makanan yang didistribusikan ke sekolah, terdapat kebutuhan untuk memastikan bahwa makanan tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga aman dikonsumsi. Bagi anak-anak, kondisi kesehatan yang terganggu dapat memengaruhi kehadiran, konsentrasi, dan kemampuan mengikuti kegiatan belajar.
Tantangan itu menjadi semakin penting ketika MBG dijalankan dalam skala besar. Semakin luas jangkauan program, semakin besar pula kebutuhan akan standar keamanan pangan yang konsisten, pengawasan yang efektif, serta kejelasan tanggung jawab di setiap tahap penyediaan makanan.
Pengalaman Sudaryono dengan arem-arem basi tidak dengan sendirinya menjawab bagaimana seluruh sistem tersebut harus dijalankan. Namun, kisah itu memberikan konteks personal mengenai alasan keamanan pangan tidak seharusnya diperlakukan sebagai urusan administratif semata.
Dalam pelaksanaan MBG, komitmen semacam itu perlu diterjemahkan ke dalam langkah yang dapat diukur: memastikan bahan pangan layak digunakan, menjaga kebersihan proses pengolahan, mengendalikan penyimpanan dan waktu distribusi, serta merespons secara cepat setiap laporan dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan.
Keamanan pangan juga membutuhkan pengawasan yang berjalan secara konsisten, bukan hanya ketika muncul laporan insiden. Standar yang tertulis harus diterapkan di lapangan, sementara evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah prosedur tersebut benar-benar melindungi penerima manfaat.
Bagi Sudaryono, kenangan tentang tiga arem-arem di Terminal Pulogadung menjadi pengingat personal tentang betapa besar dampak yang dapat ditimbulkan oleh makanan yang tidak aman.
Dalam program yang menyasar anak-anak dan masa depan mereka, pelajaran itu memiliki arti lebih luas: keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya porsi yang dibagikan. Makanan yang sampai kepada penerima juga harus memenuhi standar keamanan dan kualitas yang dijanjikan.
Sebab, tujuan program pemenuhan gizi bukan sekadar memastikan makanan tersedia setiap hari, melainkan memastikan makanan tersebut memberi manfaat, bukan justru menimbulkan risiko bagi mereka yang menerimanya. (Mohammad Irfan)
